Kamis, 28 Januari 2010

Mengelola Keuangan Dengan Baik Mempererat Pernikahan

Apakah Anda dan pasangan Anda sering bertengkar karena masalah keuangan? Apakah Anda sering berbeda dalam memanfaatkan pendapatan keluarga? Apakah Anda berharap bahwa pasangan Anda bukan “orang yang pelit” atau “pembelanja yang boros”?

Manajemen keuangan merupakan hal sangat penting yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan dalam hubungan, terutama dalam pernikahan. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan kebutuhan fisikal. Oleh karenanya, manajemen keuangan menjadi sangat penting. Lebih dari sekadar fisik, kelangsungan emosi keluarga juga sangat dipengaruhi oleh stabilitas keuangan keluarga.

Uang seperti sebilah pisau, bisa memperkaya pernikahan atau menghancurkannya. Hal ini dapat mengakibatkan ketidakpercayaan, mendahulukan diri dari pada keluarga, ketidakjujuruan, atau bahkan perceraian. Masalah keuangan keluarga sering kali terjadi karena kurang pahamnya individu-individu di dalam keluarga tersebut mengenai pengetahuan keuangan dan kebiasaan keuangan yang buruk.

Kebiasaan Keuangan Personal

Walau banyak problem keuangan disebabkan oleh pengambilan keputusan yang kurang baik, akan tetapi sebenarnya kebanyakan dari masalah keuangan disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan seperti:

  • Belanja berlebihan—impluse buying
  • Terjerat dengan kehidupan materialistis
  • Sangat dipengaruhi oleh status material
  • Menggunakan uang untuk mengontrol orang lain

Masalah uang sangat erat kaitannya dengan emosi. Mungkin Anda pernah membeli hadian untuk orang lain dengan berutang, dengan harapan mengurangi rasa bersalah karena ketidakpedulian Anda. atau mungkin Anda penah pergi belanja hanya untuk mengurangi rasa kesedihan dan kesendirian?

Kepribadian kita tentunya mempengaruhi kebiasaan keuangan kita. Seseorang yang spontanitas dan tidak khawatiran, mungkin akan menolak untuk melakukan perencanaan keuangan, seperti anggaran dan tabungan. Di lain pihak, seseroang yang sangat mengontrol keuangannya dan memiliki otoritas yang tinggi, akan menolak untuk membeli sesuatu kecuali barang tersebut memang sangat dibutuhkan. Sekali lagi dibutuhkan, bukan hanya diinginkan. Orang seperti ini mungkin akan sulit untuk berbagai kontrol keuangan dengan pasangannya.

Kebiasaan keuangan Anda juga dipengaruhi oleh prilaku Anda berkaitan dengan keuangan, di mana sebagian dipengaruhi oleh masa kecil Anda. Uang dapat dijadikan simbul kontrol, keamanan, kesalahan, ketakutan, dan masih banyak lagi.

Anda tidak suka membicarakan perihal keuangan dengan pasangan Anda karena selama Anda dibesarkan, orang tua Anda sering kali bertengkar karena masalah keuangan? Mungkin Anda perlu membeli mobil baru agar merasa lebih dari tetangga Anda?

Kebiasaan vs Hubungan

Selain dari kebiasaan individu, hubungan antara pasangan dalam pernikahan sangat mempengaruhi keuangan Anda. Beberapa hal yang mempengaruhi keuangan keluarga adalah: komunikasi, keterkaitan emosi, saling menghormati, percaya, dan “love”.

Bila Anda memiliki masalah dengan hal-hal ini, sangat mungkin Anda akan terkena masalah keuangan dalam keluarga. Beberapa masalah berkiatan dengan hubungan individu dalam keluarga yang bisa berakibat terhadap problema keuangan adalah:

  • Kurangnya komunikasi antara Anda dan pasangan Anda.
  • Terlalu mengontrol dan memanipulasi yang lain
  • Keras kepala dan sangat egois
  • Kurang rasa hormat pada pasangan
  • Kepercayaan yang disalahgunakan

Komunikasi

Komunikasi yang efektif antar individu di dalam keluarga menjadi sangat penting untuk dapat mengelola keuangan secara bijak. Tahukah Anda apa yang diinginkan oleh pasangan Anda berkaitan dengan tujuan keuangan? Apakah Anda mendiskusikan bila ingin membeli sesuatu barang yang mahal harganya? Apakah Anda membicarakan bagaimana menggunakan “uang ekstra” seperi bonus tahunan dengan pasangan Anda?

Komunikasi menjadi sangat dibutuhkan dan sangat kritikal untuk terlepas dari masalah keuangan. berkomunikasi dalam sebuah keluarga harus terus dibangun agar Anda dan pasangan Anda saling mengenal satu dengan yang lain. Ada beberapa hal yang bisa kami sarankan berkaitan dengan masalah komunikasi:

  1. Mulailah dengan menceritakan kebiasaan Anda dalam berprilaku berkaitan dengan uang, karena setiap individu memiliki prilaku yang berbeda karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berbeda. Dan teruskan dengan prilaku dan kebiasaan pasangan Anda.
  2. Setelah itu, jangan pernah beranggapan bahwa apa yang Anda lakukan adalah yang terbaik dan paling benar. Dengarkan apa yang dikatakan oleh pasangan Anda dan pertimbangkan secara masak. Mungkin saja pandangan Anda berdua bertolak belankang, hormati pandangan masing-masing, walaupun Anda sebenarnya tidak setuju dengan prilaku atau kebiasaan tersebut.
  3. Pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan, Anda sebagai istri yang harus membayarnya, suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.

    Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga, hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang.

    Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasangan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dan yang tersedia tidak mencukupi.
  4. Jangan pernah menyalahkan pasangan Anda. misalkan pasangan Anda terlilit utang, dari pada Anda marah lebih baik Anda fokus untuk menyelesaikan hal tersebut bersama dengan pasangan Anda. Mengambil tindakan secara bersama akan mengingatkan Anda bahwa Anda dalam keluarga ini adalah satu.

Kontrol

Berkiatan dengan masalah kontrol, dapat dilihat dari dua sisi. Kontrol dalam hal keuangan yang baik seperti program menabung. Misalkan, pengeluaran yang tidak diikuti dengan program perencanaan yang baik, malah dapat mengakibatkan kerusakan kondisi keuangan.

Pengeluaran kecil yang sering kali dilupakan lama-lama bisa sangat besar dan membebani pendapatan keluarga. Jadi perhatikan secara bijak kemana saja pengelauran yang Anda dan keluarga lakukan setiap bulannya. Ini adalah berkiatan dengan mengontrol keuangan Anda.
Dan sisi lain, adalah salah satu dari pasangan terlalu “mengontrol” pasangan yang lain. Dalam keluarga yang kurang komunikasi, seringkali satu orang lebih dominan dibanding pasangannya. Hal ini bisa sangat berbahaya. Bilamana terjadi, misalkan rumah bocor, pasangannya berharap bahwa “bos”-lah yang harus menyiapkan dana untuk perbaikan, karena ialah “bos”-nya. Atau tidak adanya kebebasan berpendapat dalam keluarga berkaitan dengan keputusan keuangan. Hal ini harus disikapi dengan bijak oleh Anda dan pasangan Anda.

Ide-ide Mengelola Keuangan secara Efektif

Mencari pemahaman berkaitan dengan kebiasaan, nilai yang mempengaruhi cara pandang Anda berkaitan dengan uang.

  1. Perhatikan bahwa setiap individu memiliki nilai-nilai, standar, dan tujuan yang mempengaruhi cara pandang mereka tentang uang dan bagaimana mereka menggunakannya.
  2. Pahami bahwa setiap aturan keuangan yang dibangun dalam keluarga harus mendapatkan masukan dari individu di dalamnya, pasangan suami-istri.
  3. Komunikasikan secara terbuka dan jujur kepada pasangan Anda mengenai kebiasaan keuangan keluarga. coba diskusikan aturan main keuangan yang akan Anda bangun bersama
  4. Tingkatkan pengetahuan Anda berkaitan dengan keuangan melalui buku-buku, seminar, dan lain-lain.
  5. Pertimbangkan semua motivasi Anda dalam proses pengambilan keputusan, agar keputusan tersebut memang sesuai dengan kondisi Anda
  6. Buat keluarga merasa nyaman dalam membicarakan persoalan keuangan. Jangan saling tuding, tapi saling mengisi satu dengan yang lain.

Berusahalah untuk mengubah kebiasaan buruk Anda berkaitan dengan keuangan, apalagi bila Anda sudah berkeluarga.

  1. Bangun kebiasaan mencatat pengeluaran yang Anda lakukan setiap bulannya. Anggaran adalah jantung perencanaan keuangan keluarga
  2. Tentukan dan tetapkan tugas dan tanggung jawab masing-masing individu dalam kaitannya dengan keuangan
  3. Hidup sesuai dengan pendapatan
  4. Pisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Cobalah mempertahankan pengeluaran walau Anda mendapat kenaikan pendapatan.

Pengeluaran merupakan hal terpenting dalam keuangan keluarga. Pengeluaran sangat mempengaruhi perjalanan keuangan Anda di masa datang.

  1. Hindari belanja hanya karena bujukan iklan. Tunda beberapa waktu dulu bila Anda ingin membeli sesuatu barang yang mahal harga.
  2. Berbagi pendapat untuk segala sesuatu barang yang mahal harganya.
  3. Kendalikan masalah utang Anda. Bunga kredit dan cicilan bulanan bisa sangat membebani arus kas bulanan keluarga. Jangan gunakan kredit untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Untuk mempersiapkan perjalanan keuangan di masa datang, sebaiknya setiap keluarga menyiapkan dana darurat yang bertujuan untuk kebutuhan darurat. Besarnya antara 3-6 bulan biaya bulanan. Tinjau ulang semua proteksi yang sudah dimiliki, seperti asuransi jiwa, kesehatan atau asuransi kendaraan/ rumah.

Demikaianlah ulasan kami kali ini, semoga bermanfaat.

Mengenal Investasi Obligasi

Obligasi adalah surat utang jangka panjang yang diterbitkan oleh suatu lembaga dengan nilai nominal (nilai pari/par value) dan waktu jatuh tempo tertentu. Penerbit obligasi bisa perusahaan swasta, BUMN, atau pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah.

Salah satu jenis obligasi yang diperdagangkan di pasar modal kita saat ini adalah obligasi kupon (coupon bond) dengan tingkat bunga tetap (fixed) selama masa berlaku obligasi.

Berinvestasi dalam obligasi mirip dengan berinvestasi di deposito pada bank. Bila Anda membeli obligasi, Anda akan memperoleh bunga/kupon yang tetap secara berkala biasanya setiap 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun sekali sampai waktu jatuh tempo.

Ketika obligasi tersebut jatuh tempo, penerbit harus membayar kepada investor sesuai dengan nilai dari obligasi tersebut beserta bunga/kupon terakhirnya. Dengan karakteristik seperti ini, bagi mereka yang memasuki masa pensiun, tentunya investasi ini sangat baik karena adanya kebutuhan reguler selama masa pensiun.

Obligasi bisa menjadi pilihan instrumen terbaik, terutama bila Anda memiliki tujuan keuangan dalam waktu dekat (menengah). Obligasi berpotensi memberikan tingkat bunga yang relatif lebih baik dibandingkan dengan deposito dan fluktuasi performanya relatif lebih rendah dibanding saham. Dengan tujuan keuangan antara 2-5 tahun, investasi ini mungkin akan menjadi investasi terbaik.

Sebagai contoh, bila Anda memiliki anak yang akan memasuki masa kuliah tiga tahun mendatang. Untuk kebutuhan uang kuliah di tahun pertama dan uang pangkal, Anda membeli obligasi dengan jangka waktu tersebut dan jatuh tempo sebelum waktu dibutuhkan.

Dengan investasi dalam bentuk obligasi, tentunya Anda mendapatkan kepastian tingkat pengembalian sampai masa jatuh temponya.

Misalkan, Anda membeli obligasi sebesar Rp 100 juta untuk masa tiga tahun dengan kupon bunga sebesar 12%. Anda akan menerima Rp 12 juta setiap tahunnya selama tiga tahun sampai obligasi tersebut jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo, penerbit obligasi akan membayar modal Anda sebesar Rp 100 juta.

Terlihat sangat mudah bukan? Akan tetapi, investasi dalam bentuk obligasi tidak selalu semudah seperti contoh di atas. Secara spesifik, para investor di obligasi harus mempertimbangkan 4 masalah utama.

”Default Risk”

Penerbit obligasi terkadang mengalami kesulitan untuk membayar kupon bunga obligasinya. Anda sebagai investor biasanya terkena dua dampak sekaligus.

Pertama, Anda tidak mendapatkan pendapatan dari kupon bunga seperti yang dijanjikan. Dan biasanya harga dari obligasi tersebut akan menurun tajam. Risiko ini dikenal dengan default risk atau risiko gagal bayar.
Berkaitan dengan risiko gagal bayar tersebut, ada satu pendekatan yang bisa Anda lakukan untuk melihat potensi gagal bayar dari penerbit obligasi, yaitu dengan melihat peringkat atau rating obligasi tersebut.
Pemeringkatan ini dilakukan oleh sebuah perusahaan independen. Di Indonesia, perusahaan peringkat independen tersebut adalah Pefindo (pemeringkat Efek Indonesia). Pemeringkatan ini dapat Anda lihat di harian bisnis yang beredar di Jakarta.

Dalam hal ini, Pefindo memberikan simbol atau nilai pemeringkatan dari yang tertinggi sampai yang terendah sebagai berikut: idAAA (superior), idAA (very strong), idA (strong), idBBB (adequate), idBB (somewhat weak), idB (non-investment), idCCC (vulnerable), idD (default). Peringkat idAAA sampai dengan idBBB menyatakan bahwa sebuah obligasi dinyatakan aman dari default risk atau risiko gagal bayar atau obligasi dengan peringkat ini bisa dikatakan sebagai investment-grade bond.

Peringkat di bawah dari idBBB tidak disarankan dalam investasi ini dan dikategorikan sebagai speculative-grade bond. Peringkat dari idAA sampai idB sering dibubuhi tanda – (minus) atau + (plus). Hal ini memberikan indikasi akan naik atau turunya dari peringkat sebuah obligasi. Misalkan sebuah obligasi mendapat peringkat idA+, peringkat dari obligasi tersebut mungkin akan naik menjadi idAA atau bila peringkat dari sebuah obligasi adalah idAA-, kemungkinan peringkat obligasinya akan turun menjadi idA.

Pemeringkatan ini memberikan informasi kepada Anda sebagai investor mengenai kapasitas maupun kemampuan sebuah penerbit obligasi dalam memenuhi janjinya, yaitu membayar bunga atau kupon secara berkala dan mengembalikan semua pokok atau nilai pari-nya begitu jatuh tempo.

Yang perlu Anda mengerti juga, bahwa bukan hanya risiko tingkat suku bunga yang dapat mengakibatkan fluktuasi harga obligasi, tapi risiko gagal bayar juga mempegaruhinya. Bila ada informasi di mana sebuah perusahaan akan gagal bayar, peringkat dari perusahaan tersebut akan turun dibarengai dengan anjloknya harga obligasi tersebut.

Naiknya Tingkat Suku Bunga

Risiko gagal bayar merupakan risiko yang paling ditakuti oleh para investor obligasi. Namun, bukan hanya risiko itu saja yang dapat mengakibatkan kerugian. Anda dapat tertimpa kerugian juga bila tingkat suku bunga naik.

Harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan tingkat suku bunga. Bila tingkat suku bunga turun, harga obligasi akan naik. Akan tetapi bila suku bunga naik, harga obligasi tentunya akan menurun. Semakin jauh obligasi tersebut dari waktu jatuh temponya, akan semakin besar penurunan harganya bila tingkat suku bunga naik, harga obligasi akan naik lebih besar bila tingkat suku bunga turun.

Bila Anda membeli obligasi pada nilai pari-nya dan ketika itu tingkat suku bunga naik, Anda tidak akan mengalami kerugian bila Anda tetap memegang obligasi Anda sampai mas jatuh temponya. Akan tetapi, bila Anda ingin menjual obligasi tersebut sebelum jatuh tempo, Anda mungkin akan menerima jauh lebih sedikit dari nilai pari-nya.

Risiko Pembelian Kembali ”Call Risk”

Ada beberapa jenis obligasi yang memiliki feature call, di mana perusahaan penerbit memiliki hak untuk membeli kembali (buy back) obligasi yang Anda pegang atau Anda miliki pada harga tertentu (call price), sebelum obligasi tersebut jatuh tempo. Hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan penerbit saat tingkat suku bunga di pasar turun menjadi lebih rendah dari tingkat pembayaran kupon (coupon rate). Selanjutnya perusahaan penerbit akan menggantikan obligasi baru dengan tingkat kupon yang lebih rendah dari obligasi yang telah ditarik (call).

Hal ini dapat mengakibatkan ketidakpastian dalam pola arus kas yang akan Anda terima. Selain itu, potensi untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dan jual atau capital gain juga akan berkurang, karena harga obligasi di pasar tidak akan naik jauh dari call price yang telah ditetapkan. Jadi dalam hal ini, Anda harus memperhatikan spesifikasi serta feature yang ada di obligasi yang akan Anda beli.

Biaya Investasi Tinggi

Walau investasi obligasi berpotensi memberikan keamanan pada nilai investasi Anda, kerugian mungkin saja terjadi bila Anda ingin menjualnya sebelum jatuh tempo. Karena satuan jual beli instrumen investasi yang cukup besar, umumnya Rp 1 miliar, bila Anda hanya memiliki obligasi bernilai Rp.100 juta, biasanya bila Anda ingin menjualnya, Anda harus mau menerima nilai yang lebih rendah.

Hal ini dikarenakan para pemain investasi ini umumnya adalah institusi besar seperti bank, perusahaan asuransi, atau dana pensiun. Pasar obligasi yang masih rendah (jumlah transaksinya) juga berpengaruh terhadap potensi kerugian dikarenakan tingginya biaya yang harus dikeluarkan.

Salah satu trik yang bisa Anda lakukan adalah dengan membeli obligasi saat pejualan perdana dan menahannya sampai jatuh tempo. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan harga yang sama seperti institusi besar.

Keempat masalah di atas harus Anda cermati dengan baik bila Anda tertarik untuk membeli instrument investasi.

Obligasi vs Reksadana Obligasi (Pendapatan Tetap)

Hal pertama yang perlu dipertimbangkan adalah waktu dibutuhkannya dana tersebut. Bila Anda membutuhkan dana untuk pembelian sesuatu yang mahal dalam waktu dekat, Anda dapat membeli obligasi dengan waktu jatuh tempo sama dengan waktu dibutuhkannya dana tersebut. bila kondisinya seperti ini, investasi pada obligasi akan lebih aman—dengan satu keharusan, Anda menjualnya pada saat jatuh tempo.

Anda juga bisa membeli obligasi bila tingkat suku bunga cukup menarik, dimana Anda dapat “mengunci” tingkat kupon bunga yang tinggi untuk jangka waktu tertentu—masa obligasi. Dengan begitu Anda akan mendapatkan kepastian arus pendapatan sampai masa jatuh tempo, apapun yang terjadi dengan tingkat suku bunga.

Kedua hal diatas memberikan keuntungan berinvestai dalam bentuk obligasi. Transaksi obligasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bila Anda melakukan jual-beli sebelum masa jatuh tempo, investasi pada obligasi akan sangat riskan. Bila Anda tidak mengikuti pasar obligasi secara cermat, akan jauh lebih baik bila Anda membeli Reksadana Pendapatan Tetap, di mana Anda dapat memperjualbelikannya secara mudah dan murah (biaya rendah).

Bila Anda hanya memiliki dana yang terbatas, Reksadana Obligasi menjadi pilihan yang paling tepat. Sebagai investor, Anda dapat membeli reksadana pendapatan tetap dengan dana awal minimal.

Ditambah lagi, dengan membeli reksadana pendapatan tetap bukan saja Anda bisa mendapatkan dengan modal sedikit tapi juga memberikan diversifikasi yang jauh lebih baik dari pada Anda membeli hanya satu obligasi.
Berinvestasi pada reksadana pendapatan tetap bukan hanya memberikan diversifikasi yang lebih baik, tapi juga manajer investasi yang profesional. Bagi Anda yang selalu disibukkan dengan pekerjaan, hal ini sangatlah menguntungkan. Apalagi bila Anda sudah memiliki reksadana pendapatan tetap, Anda dapat menambah investasi Anda sewaktu-waktu dengan dana yang minimal.

Demikianlah beberapa hal berkaitan dengan obligasi yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini. Minggu lalu, kami sempat mengatakan bahwa ulasan minggu lalu merupakan ulasan kami yang terakhir di Eureka.
Tapi ternyata rubrik ini akan dilanjutkan kembali. Kita akan terus setia mendampingi Anda pembaca setia Harian Sinar harapan, terutama pembaca rubrik Eureka.

Selamat bertemu kembali, walau kita sebenarnya belum pernah berpisah. Salam setia dari kami semua.n

Tingkatkan Penghasilan Anda Cermati Variabelnya

Beberapa saran yang diberikan di bawah ini bisa saja terdengar klise bagi sebagian dari Anda, tetapi satu hal yang jelas, alasan yang klise itu seringkali benar adanya dan selalu sahih digunakan sampai kapan pun. Namun demikian, jangan disalahartikan setiap pekerjaan harus selalu dilakukan hanya untuk uang. Banyak juga orang yang bekerja karena ingin mengisi waktu saja, bersosialisasi, atau untuk aktualisasi diri. Dan itu sah-sah saja. Karena itu, tips ini hanya untuk Anda yang memang bekerja karena ingin mendapatkan penghasilan lebih baik.

Pendidikan

1. Tempuh Pendidikan yang Lebih Tinggi

Statistik menunjukkan orang yang memiliki pendidikan lebih tinggi seringkali punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan penghasilan besar. Tetapi yang harus diingat, jangan sekali-kali menganggap pendidikan yang lebih tinggi bisa meningkatkan penghasilan Anda. Pendidikan yang lebih tinggi harus Anda tempuh untuk satu alasan saja: yaitu, meningkatkan keahlian Anda. Dengan keahlian tersebut, yang tidak selalu dimiliki orang lain, Anda bisa punya peluang lebih besar untuk dibayar lebih mahal.

2. Pendidikan Bukan Selalu Sekolah

Jangan menganggap bahwa pendidikan harus selalu dalam bentuk formal (sekolah), atau dalam bentuk gelar sarjana. Pendidikan lebih tinggi bisa Anda dapatkan dengan mengikuti berbagai macam kursus, misalnya. Bahkan, Anda bisa juga mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dengan belajar sendiri (otodidak). Presiden kita, misalnya, adalah contoh yang baik dari seseorang yang belajar secara otodidak. Selain itu, kita sering mendengar banyak sekali orang menjual keahliannya yang ia pelajari secara otodidak.

Pekerjaan

Kadang-kadang, ada jenis pekerjaan yang memberikan penghasilan lebih besar dibanding jenis pekerjaan lain. Di sini Anda dituntut mengetahui jenis-jenis pekerjaan apa yang memberikan penghasilan lebih besar itu. Namun demikian, akan sangat bermanfaat kalau pekerjaan itu juga Anda sukai. Jadi, Anda tidak hanya bekerja saja, tetapi juga menikmati bidang kerja itu.

Umur

Biasanya, semakin bertambah umur seseorang, semakin banyak pula pengalaman yang ia miliki, sehingga penghasilan pun biasanya akan semakin besar. Namun demikian, jangan sekali-kali menganggap umur Anda sebagai penghalang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Banyak orang berusia muda tetapi sudah mampu mendapatkan penghasilan yang diatas rata-rata orang seusianya.

Selain itu, bila Anda menekuni suatu bidang secara terus menerus, Anda biasanya akan mendalami dan menguasai bidang tersebut, hal ini akan membuat penghasilan Anda makin besar dari tahun ke tahun. Sehingga, makin bertambah umur Anda, makin besar pula penghasilan yang bisa Anda dapatkan.

Tempat Tinggal

Kadang-kadang, tempat tinggal dan lokasi kerja juga mempengaruhi penghasilan yang Anda dapatkan. Seseorang yang tinggal di suatu kota tertentu, bisa saja memiliki penghasilan yang lebih besar dibanding mereka yang tinggal di kota lain, padahal jabatan mereka sama. Jadikan ini sebagai pertimbangan. Tapi, ingatlah bahwa perpindahan tempat tinggal ke lain kota biasanya akan membawa aspek yang sangat besar dalam kehidupan Anda. Mungkin ada keluarga yang akan Anda tinggalkan, mungkin juga ada teman-teman yang akan Anda tinggalkan. Anda sendirilah yang harus bisa menentukan prioritas mana yang ingin didahulukan.

Keberuntungan

Pernahkah Anda merasa orang lain kelihatannya selalu lebih beruntung daripada Anda? Saya pernah, dan itu menyakitkan sekali rasanya. Jadi, jangan pernah beranggapan bahwa orang lain selalu lebih beruntung, sedangkan Anda tidak. Anda adalah orang yang beruntung. Kenapa? Karena Anda adalah Anda, dan tidak ada orang lain yang menyerupai Anda.

Saya sendiri sebetulnya juga tidak terlalu percaya terhadap keberuntungan. Tetapi hal itu memang terjadi. Ada orang yang berada pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat, sehingga bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Namun sebetulnya, yang tidak saya percayai bukan keberuntungannya, tetapi saya tidak ingin menunggu keberuntungan akan datang kepada saya.

Begitu juga dengan Anda. Jangan pernah berharap suatu kali keberuntungan akan datang kepada Anda. Tetapi, semakin giat Anda berusaha dalam pekerjaan, maka semakin besar pula kemungkinannya keberuntungan itu akan mendekati Anda. Jadi, jangan menunggu keberuntungan. Dengan giat berusaha dan bekerja keras, maka semakin besar pula kemungkinannya Anda akan beruntung.

Kerja Keras

Pernah ada cerita tentang seekor kodok yang tercebur ke dalam baskom berisi susu. Kodok ini berusaha meloncat agar bisa keluar dari permukaan air susu itu, tetapi sulit sekali. Di atas baskom, telah menanti dua kodok lain yang mengatakan dia akan sulit sekali meloloskan diri dari susu itu. Mereka mengatakan hal-hal yang melemahkan semangat si kodok yang tercebur tadi.

Tetapi kodok yang sedang berusaha ini tidak peduli. Ia terus berusaha untuk meloloskan diri. Sulit sekali. Ia bahkan sudah mencoba sampai tigapuluh kali, tetapi tidak berhasil juga. Sementara kedua temannya diatas baskom mengatakan percuma saja si kodok berusaha. Tetapi si kodok malang ini tidak peduli. Ia terus melompat, gagal, kecebur lagi. Melompat, gagal, kecebur lagi. Sementara kedua kodok diatas terus meremehkan dan mengatakan percuma.

Tapi tak disangka, pada lompatan yang ke-100, kodok itu meloncat sekuat tenaga, dan akhirnya berhasil lolos dari permukaan air susu. Akhirnya kodok itu ditanya, kenapa ia bisa berhasil lolos dari situ, padahal sudah dikatakan agar ia menyerah saja. Kodok yang ditanya itu malah bertanya kembali: “Apa?” Ternyata kodok itu adalah kodok tuli. Dan ketika ia berusaha meloncat tadi, ia mengira teman-teman kodoknya yang lain sedang memberikan motivasi kepadanya agar ia terus berusaha.

Pertanyaannya pembaca, apakah Anda sudah cukup bekerja keras?

Memiliki Visi

Pernah ada cerita tentang tiga orang tukang batu yang sedang menumpuk batu bata. Tukang batu yang pertama ditanya: “Pak, Anda sedang apa?” Orang itu menoleh dan menjawab: “Oh… saya sedang menumpuk batu.”

Giliran tukang batu kedua ditanya pertanyaan yang sama: “Pak, apa yang sedang Anda lakukan?” Dia menjawab: “Oh…, saya sedang membuat dinding.”

Giliran tukang batu ketiga ditanya pertanyaan yang sama: “Apa yang sedang Anda lakukan, Pak?” Orang ini menjawab: “Oh…, saya sedang membuat rumah yang terbesar di kota ini.”

Anda mengerti maksudnya? Tukang batu pertama tidak memiliki visi atau pandangan yang jauh ke depan tentang apa yang ia lakukan. Tukang batu kedua lebih lumayan, dimana ia punya visi yang lebih jauh. Tetapi tukang batu yang ketiga, dia punya visi yang luar biasa jauhnya, yaitu membuat rumah yang terbesar di kotanya. Anda bisa bayangkan hasil yang akan mereka dapatkan nanti? Tukang batu ketiga biasanya akan memberikan hasil kerja yang paling sesuai dengan visi si arsitek, yaitu membangun rumah yang terbesar di kota, dibanding dengan tukang batu pertama dan kedua. Wajar saja kalau tukang batu ketiga mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi.

Sekarang pertanyaannya, apa Anda tahu apa yang sedang kerja Anda sekarang? Apakah Anda memiliki visi ke depan tentang pekerjaan Anda? Apakah Anda memiliki visi tentang pekerjaan apa yang akan Anda tempuh nanti dalam perjalanan menuju kesuksesan? Sudahkah Anda menuliskannya di atas sebuah kertas? Atau sebaliknya, apakah Anda cuma menjalani saja pekerjaan Anda seperti air yang mengalir? Jangan lupa, kesuksesan datang karena direncanakan. Bila tidak direncanakan, maka kesuksesan tidak akan selalu datang. Bahkan kalaupun datang, Anda tidak akan tahu kapan waktunya.

Menyediakan Banyak Waktu Untuk Keluarga dan Teman

Tahun baru sudah dekat, marilah kita menyediakan waktu untuk melakukan review terhadap pengalaman-pengalaman kita tahun ini, baik pengalaman baik maupun pengalaman buruk, sebab kata pepatah “Pengalaman adalah Guru Terbaik”. Saya teringat dahulu salah satu dosen saya pernah menasihati saya, bahwa walaupun nantinya saya sudah lulus dari kuliah, bukan berakhir pendidikan saya telah “berakhir”. Melainkan saya baru memasuki ke jenjang pendidikan baru, yaitu “University of Life”, dimana pengalaman akan menjadi guru saya. Apapun yang terjadi pada kita pada tahun ini, kita harus tetap mengingat bahwa ini adalah bagian dari pendidikan kita. Pengalaman-pengalaman inilah yang akan membangun diri kita.

Dari hasil review terhadap kehidupan kita tahun ini, marilah kita merencanakan tahun mendatang agar menjadi lebih baik daripada tahun ini. Dalam artikel sebelumnya saya telah menuliskan mengenai “New Year’s Resolution”, yaitu daftar keinginan yang harus kita penuhi untuk tahun mendatang. Untuk membaca artikel saya mengenai “New Year’s Rosolution”, silahkan klik link dibawah ini:
http://blog.keuanganpribadi.com/new-years-resolution/

Pada artikel tersebut saya sudah menuliskan 9 New Year’s Resolution yang paling populer, salah satunya adalah “Menyediakan Lebih Banyak Waktu untuk Keluarga/Teman”. Dalam kesempatan ini, saya akan membahas secara detail mengenai keinginan ini, tentunya dari sisi finansial.

Apabila saya memiliki keinginan untuk menyediakan lebih banyak waktu untuk keluarga/teman, artinya dalam kehidupan sekarang saya kekurangan waktu yang dapat saya habiskan bersama keluarga/teman. Mengapa saya bisa kekurangan waktu?

Mari kita lihat bahwa dalam satu hari, kita diberi waktu 24 jam. Dari 24 jam ini, bisa kita bagi menjadi 3 penggunaan besar, yaitu:

  • 8 jam untuk tidur.
  • 8 jam untuk bekerja.
  • 8 jam untuk lain-lain.

Nah, 8 jam untuk lain-lain ini digunakan untuk hal-hal yang memakan waktu sedikit, seperti makan, mandi, transportasi, nonton tv dan lain-lain. Bagi yang memiliki karir, waktu yang bisa dihabiskan bersama keluarga berasal dari 8 jam ini. Sayangnya, setelah digunakan untuk hal lain-lain, biasanya hanya tersisa waktu 1-2 jam saja untuk keluarga. Ini adalah pembagian waktu dalam kondisi normal, belum termasuk permintaan lembur dari kantor.

Yang sering merasakan kekurangan waktu untuk keluarga/teman berasal dari kalangan karyawan. Tuntutan karir akhir-akhir ini, meminta agar karyawan bersedia memberikan waktu lebih untuk karirnya. Terutama yang bekerja di kota-kota besar. Hasilnya, waktu yang digunakan untuk bekerja membengkak dari 8 jam menjadi 10 jam. Waktu yang digunakan untuk lain-lain berkurang menjadi 6 jam. Secara otomatis waktu yang bisa digunakan untuk keluarga/teman juga berkurang. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk “meluangkan lebih banyak waktu untuk teman/keluarga”.

Jadi apabila kita bertanya “Mengapa kita kekurangan waktu yang dapat dihabiskan bersama keluarga?” Kemungkinan besar jawabannya adalah karena waktu saya habis untuk bekerja. Dan bila pertanyaan diteruskan “Mengapa saya harus bekerja?” Jawabannya adalah karena saya membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan saya dan keluarga. Jadi disini ujung-ujungnya adalah uang.

Masalah ini terjadi karena pada dasarnya karyawan menukarkan waktu mereka dengan pendapatan. Akibatnya? Semakin banyak gaji yang diterima oleh karyawan, mengharuskannya untuk bekerja lebih lama. Bila karyawan sedang membutuhkan uang lebih banyak, mereka akan bekerja tambahan dengan cara lembur atau mencari pekerjaan sampingan. Akibatnya semakin sedikit waktu untuk hal lain.

Sebagai solusinya? Dalam konsepnya yang popular “Cashflow Quadrant”, Robert Kiyosaki mengajarkan kepada kita bahwa “Jangan bekerja untuk uang”, melainkan “Biarkan uang yang bekerja untuk Anda”. “Bekerja untuk uang” adalah yang terjadi pada quadran kiri, yaitu karyawan/employee atau self-employee. Prinsip dasar dari quadran kiri adalah menukarkan waktu untuk uang. Apabila Anda tidak menyediakan waktu untuk bekerja, Anda tidak mendapatkan uang.

Disisi lain dari Quadrant ini adalah bisnis dan investor, dimana “Uang bekerja untuk Anda”. Di dalam bisnis, Anda membuat sebuah sistem yang mempergunakan waktu dan tenaga orang lain untuk menghasilkan uang. Sementara pada quadrant investor, uang Anda akan bekerja untuk menghasilkan uang bagi Anda. Anda disarankan untuk berpindah ke quadrant kanan. Pada quadrant kanan, Anda sudah tidak perlu menyediakan waktu hingga 8 jam per harinya untuk bekerja. Sistem dan uang Anda akan bekerja untuk Anda. Anda akan memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga/teman.

Sayangnya proses perpindahan quadrant ini tidak segampang membalikan telapak tangan. Diperlukan keterampilan dan pola pikir yang sangat berbeda untuk menjadi seorang bisnisman ataupun seorang investor. Namun kabar gembiranya adalah ada banyak hal yang dapat membantu Anda untuk berpindah quadrant. Untuk menjadi bisnisman, Anda akan sangat terbantu jika membuka bisnis baru melalui franchise. Mereka memiliki sistem yang sudah terbukti berhasil jalan, Anda tinggal meng-copy sistem mereka. Dan biasanya mereka juga membantu Anda dalam hal melatih tenaga kerja.

Berhentilah Merokok Demi Hari Tua

Dalam artikel sebelumnya mengenai New Year Resolution, saya telah menyebutkan 10 resolusi yang paling popular. Salah satunya adalah berhenti merokok. Dalam kesempatan ini saya akan membahas secara khusus mengenai kebiasaan merokok, dari sisi finansial.

Mungkin para perokok tidak sadar bahwa merokok itu adalah kebiasaan yang harus dibayar mahal. Mengapa? Karena merokok itu dapat menyebabkan kecanduan. Begitu Anda kecanduan rokok, kalau tidak merokok, rasanya beda. Oleh karena itu Anda akan terus-menerus mengkonsumsi rokok. Asumsi saja dalam sehari, perokok mengkomsumsi 1 kotak rokok yang harganya Rp. 8.000,-. Dalam satu bulan, uang yang dikeluarkan untuk membeli rokok adalah 30 dikali Rp. 8.000, yaitu Rp. 240.000,-. Dalam setahun, perokok akan menghabiskan uang sebesar Rp. 2.880.000,- untuk kebiasaannya.

Selain dari sisi uang, perokok juga harus membayar mahal dalam hal kesehatannya. Pemerintah sudah memberikan peringatan, dan peringatan ini sudah dicantumkan di setiap iklan rokok, bahkan dalam rokoknya itu sendiri. “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.” Hasil penelitian telah menunjukan bahwa merokok dapat menyebabkan banyak penyakit yang berbahaya. Pada saat perokok jatuh sakit karena kebiasaannya, mereka harus membayar jutaan untuk berobat.

Sekarang bayangkan apabila perokok bisa menghentikan kebiasaan merokoknya. Artinya perokok tidak perlu mengeluarkan Rp. 240.000,- setiap bulannya untuk membayar rokok. Uang yang dihemat ini dapat diinvestasikan ke reksa dana. Kita asumsikan tingkat kembalian reksa dana 20% per tahun. Apabila umur perokok sekarang adalah 30 tahun dan ingin pensiun pada umur 55 tahun. Dengan menginvestasikan secara rutin Rp. 240.000,- per bulan selama 25 tahun, maka orang tersebut akan mendapatkan hasil sebesar Rp. 2.036.468,810-. Hasilnya sebesar dua milyar!!! Luar Biasa!!!

Apabila Anda memiliki kebiasaan merokok, manakah yang Anda pilih?
1. Hari tua yang sakit-sakitan dan tidak memiliki uang.
2. Hari tua yang sehat dan memiliki uang 2 Milyar untuk biaya pensiun.

Apabila Anda memilih yang nomor 2, jangan ragu lagi. Berhentilah merokok dan investasikan uang yang biasanya Anda gunakan untuk membeli rokok.

Kunci Pengelolaan Keuangan adalah Budeting

Saya seringkali mendapatkan email yang isinya kurang lebih seperti ini:

“Pak David, saya ingin sekali berinvestasi seperti yang Anda sebutkan dalam artikel Anda. Tetapi setiap bulan seluruh pendapatan saya habis hanya untuk berbelanja. Bagaimana caranya agar saya dapat menyisakan sebagaian uang saya untuk investasi?”

Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang bagus sekali. Pertanyaan ini mewakili bagian inti dari ilmu pengelolaan keuangan pribadi atau keluarga.

Apabila Anda pernah membaca Finansial Revolution, mungkin Anda masih ingat ada 3 tahap yang diajarkan oleh Tung Desem Waringin untuk mencapai finansial freedom:
1. Berbelanja lebih sedikit daripada pendapatan (gaji).
2. Menginvestasikan selisihnya.
3. Menginvestasikan kembali pokok dan bunga investasi untuk pertumbuhan bunga majemuk.
Disini kita lihat bahwa ilmu dasar untuk mencapai finansial freedom adalah Anda harus dapat mengatur pengeluaran Anda supaya selalu lebih kecil dari pada pendapatan. Setelah itu barulah Anda akan mendapatkan sejumlah uang untuk diinvestasikan. Bila Anda gagal di tahap 1, Anda tidak bisa melangkah ke tahap-tahap berikutnya.

Dalam ebook panduan “Keuangan Pribadi: Resep Rahasia Dibalik Kesuksesan Kaum Kaya” yang dijual hanya secara online di www.KeuanganPribadi.com saya menuliskan 3 langkah besar untuk menjadi kaya. Langkah-langkahnya kurang lebih sama dengan ajaran TDW, yaitu:

  1. Memotivasi diri Anda. Dalam langkah ini Anda membuang pikiran-pikiran negatif yang menghalangi Anda dari jalan menuju kekayaan. Ingat, Anda tidak dilahirkan untuk menjadi miskin. Meminjam kata dari Andrie Wongso, “Sukses adalah Hak Saya”.
  2. Memberdayakan Dana. Langkah ini adalah jawaban dari pertanyaan diatas. Dalam langkah ini Anda diajarkan untuk mengoptimalkan penggunaan uang Anda, sehingga pendapatan Anda akan menjadi lebih besar daripada pengeluaran. Disini Anda akan mendapatkan sisa uang yang dapat diinvestasikan untuk tahap berikutnya.
  3. Melipatgandakan Kekayaan. Disini saya menuliskan berbagai macam produk investasi dengan konsep compound interest (bunga majemuk). Konsep bunga majemuk adalah sama dengan langkah kedua dan langkah ketiga pada ajaran TDW, yaitu Anda menginvestasikan sejumlah uang. Kemudian Anda menginvestasikan ulang pokok dan bunga investasi Anda sebelumnya. Sehingga bunga yang Anda dapatkan dari investasi dapat turut berbunga. Dengan menggunakan konsep ini, maka Anda dapat melipatgandakan nilai investasi Anda.

Ilmu dasar dari pengelolaan keuangan pribadi atau keluarga terletak pada langkah kedua. Memberdayakan Dana. Dalam langkah inilah Anda mendapatkan jawaban dari pertanyaan di atas.

Apakah jawabannya? Kunci jawabannya adalah “Budgeting”. Dalam proses budgeting, Anda membuat anggaran pendapatan dan belanja Anda. Biasanya secara bulanan. Kemudian, Anda secara disiplin mengatur pengeluaran Anda pada bulan tersebut agar sesuai dengan anggaran Anda.

Contohnya, misalkan saja pendapatan Anda adalah dari gaji, yaitu Rp. 4.500.000,-


PENDAPATAN:
Gaji Rp. 4.500.000,-
==================================
TOTAL PENDAPATAN Rp. 4.500.000,-

Dari total pendapatan tersebut, bagikan jatah untuk pos-pos pengeluaran Anda. Ingat, Anda harus menyisakan minimal 10% dari total pendapatan Anda untuk TABUNGAN. Tabungan inilah yang nantinya akan digunakan untuk berinvestasi.

BELANJA
Makanan/Kebutuhan Harian Rp. 1.500.000,-
Pakaian Rp. 300.000,-
Pendidikan Rp. 500.000,-
Kesehatan Rp. 300.000,-
Rekreasi Rp. 500.000,-
Transportasi Rp. 300.000,-
Asuransi Rp. 250.000,-
Tabungan Rp. 450.000,-
Pembayaran Kredit Rp. 500.000,-
Lain-lain Rp. 400.000.-
=========================================
TOTAL BELANJA Rp. 4.500.000,-

Setelah Anda mengatur anggaran Anda, maka jalanilah secara disiplin bulan tersebut agar sesuai dengan anggaran. Apabila Anda menjatahkan pos pengeluaran untuk pakaian sebesar Rp. 300.000,-, maka Anda harus konsisten dalam berbelanja. Dalam memilih pakaian, Anda tidak boleh membeli yang lebih mahal dari secara total Rp. 300.000,-. Dan apabila Anda sudah membelanjakan seluruh jatah pakaian Anda, maka Anda sudah tidak boleh membeli pakaian lagi pada bulan yang sama. Begitu juga untuk pos-pos pengeluaran lainnya.

Income Naik Expense Turun

Alkisah Yanto yang baru saja diangkat menjadi Manager. Gajinya meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sebelumnya 4 juta menjadi 10 juta rupiah.

Berhubung jabatannya sekarang sudah bergengsi, Yanto merasa bahwa dirinya layak menikmati gaya hidup yang lebih mewah. Sepeda motor yang biasa dikendarainya untuk ke kantor mulai dijual, digantikan dengan mobil Kijang baru yang dibeli secara kredit.

Selain itu, Yanto juga sering lunch bareng dengan manajer-manajer lainnya di cafe ataupun restoran. Sudah bukan di foodcourt karyawan biasa.

Untuk pakaian, Yanto juga mulai memilih merk-merk yang mahal. Malu donk, masa manager gak pake kemeja bermerk.

Begitulah perubahan gaya hidup yang drastis yang disebabkan oleh kenaikan jabatan. Tanpa sadar, pengeluaran Yanto turut membesar. Bahkan melebihi kenaikan gajinya. Dulunya Yanto dapat hidup pas-pasan dengan gajinya yang 4 juta, sekarang dengan gaji 10 juta pengeluaran Yanto malah 12 juta. Setiap bulan tekor 2 juta.

Namun Yanto tidak khawatir. Dengan pangkatnya yang sekarang, banyak kok bank yang bersedia menawarkan kartu kredit. Dalam waktu singkat Yanto bisa memiliki 5 kartu kredit yang dapat digunakan untuk berbelanja.

Begitulah caranya Yanto membiayai pengeluaran bulanannya yang melebihi gajinya. Tanpa terasa hutangnya terus membengkak. Hingga akhirnya debt collector mulai mengejar-ngejar Yanto. Tidak sanggup membayar cicilan kartu kredit, kata-kata kasar mulai dilontarkan oleh debt collector. Ancaman menyita harga mulai bermunculan.

Akhirnya Yanto mulai menyesal. Mengapa dia harus mengikuti gaya hidup seperti ini? Gaya hidup yang tidak sangup dibayar dengan tingkat pendapatan yang sekarang. Namun menyesal saja sudah tidak cukup, Yanto sudah terpuruk secara finansial.

Pesan Moral: Melek Finansial

Cerpen diatas bukan cerita real. Saya hanya bermaksud mengingatkan Anda, agar selalu melek finansial. Ada saatnya kita semua mengalami kenaikan pendapatan, bisa berupa bonus tambahan, naik pangkat, menang undian, dan lain-lain. Namun kita harus tetap ingat hukum utama keuangan:
“Pengeluaran harus selalu dibawah pendapatan”

Kita memang perlu memberi reward kepada diri kita karena kenaikan pendapatan. Namun tetap ingat, jangan sampai biaya untuk reward tersebut lebih besar dari jumlah kenaikan pendapatan itu sendiri. Karena pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan akan membawa kita ke arah kebangkrutan finansial.